Terjerat Pesona Toyama

Pukul 11.15 kami sampai di Kota Toyama. Sam Gomisawa yang mewakili Pemerintah Daerah Toyama menjemput kami di Bandara Toyama. Menggunakan minibus jumbo yang akan kami pergunakan untuk mengelilingi tiga prefektur, siang ini Sam membawa kami ke kota Shinminato. Dia membawa kami ke sebuah tempat belajar membuat sushi di Shinminato Sushi Academy.

Kiranya siang hingga petang ini saya akan diajak menikmati pesona Toyama dalam bentuk karya, mulai dari karya kuliner hingga karya kerajinan tangan.

Kini kami sampai di Shinminato Sushi Academy. Tempat ini dulunya adalah sebuah restoran sushi yang cukup terkenal. Namun seiring waktu, popularitas sushi mulai turun. Untuk mempertahankanhh tradisi kuliner ini, maka pemiliknya menjadikan tempat ini sebagai sebuah academy untuk mengajari para pengunjung, baik lokal maupun asing belajar membuat sushi.

Ya, sushi adalah makanan Jepang yang terdiri dari nasi yang dibentuk bersama lauk (neta) berupa makanan laut, daging, sayuran mentah atau sudah dimasak. Nasi sushi mempunyai rasa masam yang lembut karena dibumbui campuran cuka beras, garam, dan gula.

Pada awalnya, sushi  merupakan istilah untuk salah satu jenis pengawetan ikan disebut gyosh? yang membaluri ikan dengan garam dapur, bubuk ragi atau ampas sake.

Sushi dikenal sebagai makan siang, itulah sebabnya kami langsung digiring ke tempat ini berbarengan  dengan waktu yang menunjuk pukul 12.00 siang waktu setempat.

Daidai San menyambut kami dan langsung mengarahkan ke dapur pembuatan sushi. Masing2 dari kami disediakan satu piring nasi dengan beberapa toping berupa irisan ikan tuna, salmon, mata sebelah, cumi, makarel, anago (belut laut), telur ikan salmon (ikura).

Pak Daidai yang master sushi itu mengajari kami cara menjumput nasi seberat 200 gram. Lantas membentuknya di telapak tangan yang setengah ditangkup. Untuk selanjutnya ditekan-tekan secara lembut. Baru setelah terbentuk, kita meletakkan irisan ikan di atasnya. Setelah nasi dan irisan ikan, telur dadar dan telur ikan terpasang, kami mendapatkan delapan sushi yang harus kami santap sebagai menu makan siang. Hmmm… Asyik juga ternyata, membuat sushi sendiri, dimakan sendiri.

***
Usai berfoto dengan Pak Daidai yang memberi kami selembar sertifikat pernah belajar sushi di Shinminato Sushi Academy, kami pun melanjutkan perjalanan ke pasar ikan Shinminato Kitokito Market.

Di perjalanan, nampak burung gagak dan camar berseliweran di angkasa Teluk Toyama. Sementara  di kejauhan  kapal Kaiwomaru yang legendaris itu lego jangkar di sana. Gelar “Ratu Lautan” memang pas untuk disematkan pada kapal yang megah dengan 29 layar raksasanya. Sayang hari masih sore, jadi kami tak bisa menyaksikan gemerlap lampu-lampu di sekeliling taman dan kapal.

Sampai di pasar ikan, tampak gambar Beni-Zuwaigani atau kepiting merah terpasang seperti memberi ucapan selamat datang.

Sedemikian populernya Beni-Zuwaigani di kota ini. Maklummlah,  Beni-Zuwaigini adalah makanan laut yang paling terkenal dari Teluk Toyama, terutama pada musim dingin. Beni Zuwaigani adalah sejenis kepiting merah yang dimasak sampai teksturnya terasa lembut dan manis. Bagian yang paling enak dari Beni-Zuwaigani adalah Miso Kani Kaya. Kepiting merah ini dapat dinikmati dalam hidangan hot pot seperti kani nabe dan kani suki. Kepiting ini memiliki ukuran yang lebih besar dan memiliki lebih banyak daging, bahkan kaya akan kandungan nutrisi.  

Untuk menangkap kepiting ini konon harus ekstra hati–hati agar cangkangnya tidak rusak atau pecah dan tidak akan menghilangkan rasa khas dari Beni-Zuwaigani.

Di tempat ini pelbagai biota laut dijual. Mulai dari ikan, kepiting, kerang, hingga cumi-cumi.

Kami tak lama di sini. Hari mulai sore, sementara masih ada beberapa tempat yang harus kami kunjungi. Setelah berpamitan kepada beberapa petugas di pasar ikan itu, kami bergegas ke Kuil Kyoukuu-Ji.

Di  sana telah menunggu pendeta senior dari generasi ke-25. Wajahnya menyiratkan kesejukan. Beliau lalu menerangkan tentang kuil tersebut, termasuk fungsi dari ruang2 dan filosofi taman yang terdapat di halaman belakang. Di taman itu ada pohonan yang sudah ratusan tahun usianya, ada kolam. Sementara di latar belakang ada bukit. Semua ini, kata pendeta, menyimbolkan alam Jepang yang dikelilingi gunung dan berbatasan dengan laut.

Sebelum berpamitan, saya sempat mencicipi teh hangat dan kue manis. Hmmmm….

Kami mengakhiri kunjungan hari itu di sebuah galeri kerajinan timah bernama Han Bun Ko. Oleh  pemiliknya yang bernama Ayaka Kita saya diajari membuat cawan dari timah, mulai dari mempersiapkan bejana yang diisi pasir padat, mengecor timah panas, hingga mengamplas. Proses pembuatan yang berlangsung selama satu jam itu berakhir dengan manis. Sebab, setelah cawan jadi ternyata dihadiahkan untuk saya. Arigato Ayaka San!

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/11/15/204648827/terjerat.pesona.toyama

Be the first to leave a comment. Don’t be shy.

Join the Discussion

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>