Mengenal Cascara, Teh Dari Kulit Kopi Di Banyuwangi

BANYUWANGI, KOMPAS.com – Ada yang menarik saat berkunjung di Festival Kopi Lego yang digelar di Desa Gombeng, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Ada minuman yang dikenalkan kepada masyarakat petani di Desa Gombeng yaitu Cascara, yang terbuat dari kulit buah kopi. Festival Kopi Lego (Lerek Gombengsari) sendiri digagas oleh masyarakat Desa Gombeng untuk mengenalkan produksi kopi daerah mereka.

Selain diikuti oleh wisatawan, festival tersebut juga dihadiri oleh para penggiat kopi di Banyuwangi dan Jawa Timur.

(BACA: Rujak Kelang Khas Muncar Banyuwangi, Rasanya Campur-campur)

Lia Zen, penggiat kopi asal Sidoarjo kepada KompasTravel, Rabu (27/102016), menjelaskan sengaja mengenalkan cascara dengan harapan para petani di Desa Gombengsari bisa memproduksi cascara sehingga penghasilan mereka bertambah.

“Selama ini biasanya kulit buah kopi yang dibuang begitu saja. Padahal kalau diolah dan dimanfaatkan bisa memiliki daya jual yang tinggi. Apalagi penjualan cascara ini prospeknya cukup bagus ke depannya,” kata Lia.

Apalagi saat ini jumlah coffee shop di kota kota besar termasuk Banyuwangi sudah mulai bertambah. Selain itu, dengan mengolah cascara, petani menjadi disiplin memetik kopi yang berwarna merah karena cascara hanya bisa dibuat dari kulit buah kopi yang benar-benar matang.

Jika kulit buah kopi masih hijau atau kekuning-kuningan maka rasa dari cascara tidak maksimal.

(BACA: Kabar Gembira, Penerbangan Langsung Jakarta-Banyuwangi Segera Dibuka)

Perempuan yang juga menjadi konsultan coffee shop tersebut menjelaskan cara membuat cascara cukup sederhana yaitu kulit buah kopi dipisahkan dengan biji kopinya. Lalu kulit buah kopi yang berwarna merah dijemur di panas matahari dengan para para sehingga mendapatkan udara langsung dari bawah dan atas.

Penjemuran dilakukan hingga kulit buah kopi menjadi kering. “Biasanya kalau cuaca bagus tiga hari sudah kering tapi kalau cuaca mendung sekitar 5 harian lah. Semua pengelolaannya alami. Tidak ada campuran apa-apa,” jelas Lia.

Untuk memunculkan aroma baru, Lia berencana menjemur kulit buah kopi dengan kulit jeruk purut. “Ini masih saya uji coba,” katanya.

Ia menjelaskan untuk pembuatan cascara biasanya menggunakan kopi jenis arabika karena kulitnya lebih tebal dibandingkan kopi jenis robusta.

KOMPAS.COM/IRA RACHMAWATI Cascara teh dari kulit kopi yang dikenalkan di Festival Kopi Lego Banyuwangi.

Namun untuk di wilayah Desa Gombeng, menurut Lia, masyarakat bisa membuat cascara dari kopi ekselsa atau masyarakat lokal mengenalnya dengan nama kopi buria.

“Sempat ngobrol dengan petani di sini, katanya banyak kopi jenis ekselsa dan peminatnya tidak begitu banyak. Jadi kulit buahnya bisa dimanfaatkan untuk menjadi cascara,” ungkapnya.

Untuk sekilo cascara bisa dihargai Rp 30.000 atau sesuai dengan kualitasnya. Untuk cara penyeduhannya seperti membuat teh pada umumnya yaitu dengan air panas dengan takaran 7 gram cascara atau satu sendok dengan 300 mililiter air panas.

Akan lebih enak dinikmati jika didiamkan terlebih dahulu hingga suhu ruang lalu disimpan di dalam lemari pendingin. “Rasanya mirip dengan rosela ada rasa asam, hanya cascara memiliki taste yang berbeda. Tidak perlu ditambahkan gula untuk menikmatinya,” katanya.

Lia mengaku menyediakan cascara di coffee shop yang ia kelola di Sidoarjo dan masih mengambil dari Flores.

“Jika Banyuwangi bisa memproduksinya kenapa tidak menggunakan produksi Banyuwangi apalagi peminatnya saat ini cukup banyak karena cascara sudah mulai populer di kalangan masyarakat khususnya anak muda,” tambah Lia. 

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/10/27/092400327/mengenal.cascara.teh.dari.kulit.kopi.di.banyuwangi

Be the first to leave a comment. Don’t be shy.

Join the Discussion

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>