Kevin, Dari “Cool” Sampai “Ngocol”

JAKARTA, Kompas.com – Kevin Sanjaya Sukamuljo selalu tampil “stylish” di lapangan, gayanya tak disukai lawan, tetapi disukai penonton karena kerap melakukan pukulan akrobatik

Di Indonesia, tipikal pemain ganda putra seperti ini jarang ditemui dalam satu generasi. Masa lalu  kita memiliki Eddy Hartono atau Kempong (dekade 1980-1990-an), yang memiliki banyak pyukulan ajaib.  Tetapi sulit untuk membenci atau sebal pada sosok Kempong yang memang selalu tampil santun di lapangan.

Mungkin yang bergaya mirip dengan Kevin -di Jakarta disebut tipe ngocol-  pada masa lalu adalah Sigit Budiarto. Terkenal juga dengan koleksi pukulan yang sulit diterka, Sigit kerap berperan sebagai “bad boy” bagi pasangannya, semisal Candra Wijaya saat menjadi juara di All England 1993. Lawan pasti sebal melihat gaya Sigit yang provokatif.

Makanya, Sigit hanya tertawa saat pelatih ganda putra PB Djarum lainnya, Ade Lukas menyodorkan nama Kevin Sanjaya kepadanya untuk dilatih. “Git, ini anak gayanya mirip kamu,” kata Sigit.

“Ketika saya melihat anak ini, saya suka dengan kegigihannya,” kata Sigit. “Dia melahap semua porsi latihan, dari yang ringan sampai berat. Lebih dari itu, kalau boleh dibilang dalam satu kata, Kevin ini orangnya pintar.”

Kepintaran atau kemampuan membaca situasi pertandingan memang menjadi satu faktor plus Kevin.  bersama pasangannya, Marcus fernaldi Gideon, ia mampu  menyseuaikan gaya befrmain sehingga potensi ekduanya dapat muncul.  Marcus yang lebih kalem dan terkontrol  mampu menunjang gaya permainan Kevin yang antisipatif terhadap gaya bermain yang ingin dikembangakan lawan.

Ayah Kevin, Sugiarto Sukamuljo dan ibunya, Niawiti mengakui pada dasarnya anak mereka adalah anak yang tenang bahkan  cenderung pendiam. “Meski cool, tetapi Kevin itu memang kemauannya keras, bahkan cenderung nekad kalau punya keinginan,’ kata Suigiarto.

“Waktu kecil kalau dia mau ikut lomba sepeda BMX ya dia ikut saja, biar pun dilarang. Sebagai orang tua, siapa yang tidak khawatir melihat anak pulang dengan kaki luka-luka karena jatuh? Tapi ya dia itu, biar pun manja tapi jarang nangis,” kata Niawiti, ibunda Kevin.

Tekad dan kemauan keras Kevin ini kemudian menemukan muara setelah ia dikenalkan bulu tangkis oleh Sugiarto melalui lapangan bulu tangkis di belakang rumah merak di Banyuwangi.  “Sejak itu pikirannya hanya bulu tangkis. Ia juga bilang punya keinginan untuk suatu saat menjadi juara All England,” kata Niawiti.

Kedua orang tua ini bersyukur bahwa selain sifat keras dan kemauan tinggi belajar, mereka juga diberitahu oleh pihak PB Djarum bahwa Kevin termasuk anak yang cerdas dan mampu menganalisis permainan lawan secara cepat. “Kami diberitahu mas Sigit (Budiarto)  bahwa Kevin memiliki kemampuan menganalisis di atas rata-rata pemain  lainnya,” kata Sugiarto.

Kevin  memang memiliki kemampuan untuk berkelit mengatsai masalah yang dihadapi. Ketika ia “dipojokkan” wartawan yang membandingkan bonus yang diterimanya dengan jumlah yang diterima pasangannya, Marcus Fernaldi Gideon yang berasal dari klub lain, Kevin berkelit,”Semua kan ada plus minusnya. Di sini saya dapat lebih besar. Tapi di kesempatan lain seperti PON atau SEA Games, dia kan dapat lebih besar dari Provinsi-nya…”

Sumber:

http://olahraga.kompas.com/read/2017/03/23/11502631/kevin.dari.cool.sampai.ngocol.

Be the first to leave a comment. Don’t be shy.

Join the Discussion

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>